Senin, 24 Oktober 2011

QAIS & LAILA , GELORA CINTA ABADI


by Dhaunt Boys on 04:00 PM, 24-Okt-2011


Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di
Jazirah Arab memiIiki segala macam yang
diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak
punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu
menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat,
tetapi tidak berhasil. Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka
berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan
tulus memohon kepada Allah swt memberikan
anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba
sekali lagi, tak ada ruginya. ” Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil
berurai air mata dari relung hati mereka yang
terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan
manisnya menimang anak dalam pelukan kami.
Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk
membesarkan seorang manusia yang baik.
Berikan kesempatan kepada kami untuk
membuat-Mu bangga akan anak kami. ” Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan
Tuhan menganugerahi mereka seorang anak laki-
laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat
berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang.
Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam,
yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Sejak awal, Qais telahmemperlihatkan
kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia
punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni
berperang dan memainkan musik, menggubah
syair dan melukis. Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah,
ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah
yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang
mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja
yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan
perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini. Di antara mereka ada seorang anak perempuan
dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata
indah, yang memiliki kecantikan luar biasa.
Rambut dan matanya sehitam malam; karena
alasan inilah mereka menyebutnya Laila- ”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi,
sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman
itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang
masih sangat muda, yakni sembilan tahun. Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari
pertama masuk sekolah, mereka sudah saling
tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya
waktu, percikan ketertarikan ini makin lama
menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka
berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu.
Ketika guru sedang mengajar, mereka saling
berpandangan. Ketika tiba
waktunya menulis pelajaran, mereka justru
saling menulis namanya di atas kertas. Bagi
mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila. Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit
demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta
mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai
terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang
gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang
dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila
mendengar bisik-bisik tentang anak gadis
mereka, mereka pun melarangnya pergi ke
sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban
malu pada masyarakat sekitar. Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais
menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan
sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk
mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil
namanya. Ia menggubah syair untuknya dan
membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab
pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka
bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa
dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila !” Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni
“Majnun ”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan.
Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila
kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit
oleh orang tuanya di rumah, yang dengan
bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan
bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun. Majnun menemukan sebuah tempat di
puncak bukit dekat desa Laila dan membangun
sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap
rumah Laila. Sepanjang hari Majnun
duduk-duduk di depan gubuknya, disamping
sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu. Ia berbicara kepada air,
menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun
merasa yakin bahwa sungai itu akan
menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia
menyapa burung-burung dan meminta mereka
untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat. Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa
Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat
yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya
makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah
anjing suci, menghormatinya dan menjaganya
sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari
tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama
seperti kekasihnya sendiri. Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak
menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada
Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak
bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali.
Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu
datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang
betapa ia sangat kehilangan dirinya. Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang
datang mengunjunginya demikian terharu oleh
penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga
mereka bertekad embantunya untuk berjumpa
kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat
cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita.
Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita
pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke
pintu kamarnya. Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain
berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti
masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun
kecuali memikirkan Qais. Yang cukup
mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-
burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya
sembari membayangkan bahwa ia mendengar
suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil
dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau
sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari
Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat
terbaiknya, tentang cintanya. Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila,
ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia
mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan
indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan
disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya
diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut
surmeh. Bibirnya diberi lipstick merah, dan
pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala
serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di
depan pintu dan menunggu. Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk.
Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan
datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu
benar-benar terjadi.
Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit,
memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak
terdengar sepatah kata pun, kecuali
detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta
ini. Mereka saling berpandangan dan
lupa waktu. Salah seorang wanita pembantu di rumah itu
melihat sahabat-sahabat Majnun di
luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan
memberi isyarat kepada salah
seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang
menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah
orang-tuanya bertanya kepada Laila,
maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa
yang telah terjadi. Kebisuan dan
kebahagiaan yang terpancar dimatanya
menceritakan segala sesuatunya. Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila
menempatkan para pengawal di setiap
pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi
Majnun untuk menghampiri rumah
Laila, bahkan
dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan
bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan
Laila dan Majnun, satu sama
lain, sungguh ia salah besar. Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di
rumah Laila, ia memutuskan untuk
mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk
anaknya. Ia menyiapkan sebuah
kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya
ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala
suku itu berbincang-bincang
tentang kebahagiaan anak-anak mereka. Ayah
Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang
sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu
“Cinta dan Kekayaan ”. Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan
aku bisa memastikan bahwa aku
sanggup memberi mereka cukup banyak uang
untuk mengarungi kehidupan yang bahagia
dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila
pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais. Aku percaya kepadamu, sebab
engkau pastilah seorang mulia dan
terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku
kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua
orang tahu perilaku abnormalnya.
Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti
sudah lama tidak mandi dan
iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan
engkau berada dalam posisiku,
akankah engkau memberikan anak perempuanmu
kepada anakku ?” Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa
dikatakannya? Padahal, dulu
anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan
sebayanya? Dahulu Qais adalah anak
yang paling cerdas dan berbakat di seantero
Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya
sendiri susah untuk mempercayainya.
Sudah lama orang tidak mendengar ucapan
bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku
menghancurkan dirinya sendiri, ” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu. ” Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia
menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta
makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam
jamuan pesta makan malam itu,
gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun
diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir
ayahnya. Di pesta itu, Majnun
diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya.
Ia duduk di sebuah sudut ruangan
sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk
mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila. Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama
dengan milik Laila; yang lainnya
punya rambut panjang seperti Laila, dan yang
lainnya lagi punya senyum mirip
Laila. Namun, tak ada seorang gadis pun yang
benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki
separuh kecantikan Laila. Pesta itu
hanya menambah kepedihan perasaan Majnun
saja kepada kekasihnya. Ia pun berang
dan marah serta menyalahkan setiap orang di
pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya. Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-
tuanya dan sahabat-sahabatnya
sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia
menangis sedemikian hebat hingga
akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan.
Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk
menunaikan ibadah haji ke Mekah
dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya
dan membebaskannya dari cinta yang
menghancurkan ini. Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya,
Majnun bersujud di depan altar Kabah,
tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para
Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta,
aku hanya mohon kepada-Mu satu hal
saja, ”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa,
cintaku dan kekasihku tetap hidup. ” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi
yang bisa ia lakukan untuk anaknya. Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak
mau lagi bergaul dengan orang
banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa
memberitahu di mana ia berada. Ia
tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal
dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing
dari masyarakat dan tinggal
didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun
yang mendengar kabar tentang
Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat
dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya.
Banyak orang berkesimpulan bahwa
Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun
sahara. Ia bagai hilang ditelan
bumi. Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan
bangunan itu dan melihat ada
sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok
yang hancur. Seorang liar dengan
rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya
panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang
musafir mengucapkan salam dan tidak
beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada
seekor serigala tidur di
kakinya. “Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan. Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia
menunggu dan ingin tahu apa
yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu
berbicara. Segera saja ia pun tahu
bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang
berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab.
Tampaknya, Majnun tidak kesulitan
menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan
binatang-binatang buas dan liar. Dalam
kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan
sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai
bagian dari kehidupan liar dan buas
itu. Berbagai macam binatang tertarik kepadanya,
karena secara naluri mengetahui
bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka.
Bahkan, binatang-binatang buas
seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan
dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan
berbagai kidung pujiannya pada
Laila. Mereka berbagi sepotong roti yang
diberikan olehnya. Kemudian, sang
musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya. Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan
kisahnya pada orang-orang. Akhimya,
sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita
itu. Ia mengundang sang musafir
ke rumahnya dan meminta keteransran rinci
darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya
pergi ke gurun sahara untuk
menjemputnya. Ketika melihat reruntuhan bangunan yang
dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah
Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang
luar biasa. Betapa tidak! Anaknya
terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti
ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan
mengembalikannya ke keluarga kami, ” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa
ayahnya dan segera keluar dari tempat
persembunyiannya. Dengan bersimpuh dibawah
kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang
kutimbulkan pada dirimu. Tolong
lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang
anak, sebab ini akan meringankan
beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku
mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan
terakhir mereka. Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran
salah dan gagal menangani
situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa
itu telah mempermalukan seluruh
keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya
dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia
tidak ingin ditemani. Ia
berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta
yang membakar dalam kalbunya.
Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang
terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan
kertas kecil. Kemudian, ketika ia
diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun
menerbangkan potongan-potongan kertas
kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang
yang menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya
kepada Majnun. Dengan cara
demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin
hubungan. Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri,
banyak orang datang
mengunjunginya. Namun, mereka hanya
berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu
bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi
banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah dan memainkan
serulingnya dengan sangat memukau. Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian
lagi hanya sekadar ingin tahu
tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang
mampu merasakan kedalaman cinta dan
kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah
seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam
perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah
mendengar kisah cinta yang sangat
terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali
mendengarnya dari mulut Majnun sendiri. Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian
pilu dan sedih sehingga ia
bersumpah dan bertekad melakukan apa saja
yang mungkin untuk mempersatukan dua
kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan
orang-orang yang menghalanginya! Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia
pun menghimpun pasukannya. Pasukan
ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur
suku di sana tanpa ampun. Banyak
orang yang terbunuh atau terluka. Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan
pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan
putriku, aku akan menyerahkannya tanpa
melawan. Bahkan, jika engkau ingin
membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada
satu hal yang tidak akan pernah
bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu ”. Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia
bergegas kesana. Di medan
pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari
dengan bebas di antara para prajurit
dan menghampiri orang-orang yang terluka dari
suku Laila. Ia merawat mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja
untuk meringankan luka mereka. Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia
meminta penjelasan ihwal mengapa
ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab,
“Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi
musuh mereka ?” Karena sedemikian bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang
dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini
akhirnya membuatnya sadar. Ia pun
memerintahkan pasukannya untuk mundur dan
segera meninggalkan desa itu tanpa
mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun. Laila semakin merana dalam penjara kamarnya
sendiri. Satu-satunya yang bisa ia
nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya.
Suatu hari, dalam perjalanannya
menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan
kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa
menunda-nunda lagi, ia segera mencari
ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena
pertempuran yang baru saja
menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya,
ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu. Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan
kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu. ” Akan tetapi, tangisan dan
permohonannya tidak digubris. Lantas ia
mendatangi ibunya, tetapi sama saja
keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam
waktu singkat. Orangtua Laila
merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga. Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya
bahwa ia tidak pernah bisa
mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri, ” katanya. “Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah
seorang istri yang lain. Aku yakin,
masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu
bahagia.” Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa,
sesudah hidup bersamanya beberapa
waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan
menerimanya. Ia tidak mau memaksa
Laila, melainkan menunggunya untuk datang
kepadanya. Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar
oleh Majnun, ia menangis dan
meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-
Iagu yang demikian menyayat
hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua
orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat
sehingga binatang-binatang yang
berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih
dan menangis. Namun, kesedihannya
ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun
merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak
terjadi apa-apa, ia pun terus
tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada
Laila tidak berubah dan malah
menjadi semakin lebih dalam lagi. Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan
ucapan selamat kepada Laila atas
perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya
meminta satu hal sebagai tanda cintamu,
janganlah engkau lupakan namaku,
sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai
pendampingmu. Janganlah pernah
lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya
akan memanggil-manggil namamu, Laila ”. Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah
anting-anting sebagai tanda
pengabdian tradisional. Dalam surat yang
disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang
sesaat pun. Kupendam cintaku demikian
lama, tanpa mampu menceritakannya kepada
siapapun. Engkau memaklumkan cintamu
ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di
dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di
sekelilingmu ” . “Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang,
padahal segenap jiwaku menjadi milik
orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di
antara kita yang lebih dimabuk
cinta, engkau ataukah aku?. Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun
pun meninggal dunia. Ia tetap
tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa
lebih kesepian ketimbang
sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun
sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia memainkan
serulingnya dan melantunkan
syair-syairnya kepada berbagai binatang buas
yang kini menjadi satu-satunya
pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila
dengan ranting di atas tanah. Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan
cara hidup aneh ini, ia mencapai
kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa
sehingga tak ada sesuatu pun yang
sanggup mengusik dan mengganggunya. Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn
Salam tidak pernah berhasil
mendekatinya. Kendatipun ia hidup bersama
Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian
dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat
Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan
dari istrinya. Hidupnya serasa
pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan
ketenangan dan kedamaian di rumahnya.
Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan
mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa
berbagi kabar tentang dunia luar
dengan Laila. Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir
Laila, kecuali bila ia
ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan
sekadarnya saja dan sangat
singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit,
ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi.
Akibatnya, pada suatu pagi di musim
panas, ia pun meninggal dunia. Kematian
suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk
perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia
berkabung atas kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya,
Majnun yang hilang dan sudah lama
dirindukannya. Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah
tenang, acuh tak acuh, dan hanya
sekali saja ia menangis. Kini, ia menangis keras
dan lama atas perpisahannya
dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa
berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila
tampak tua, dewasa, dan bijaksana,
yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya.
Semen tara api cintanya makin
membara, kesehatan Laila justru memudar
karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga
tidak tidur dengan baik selama
bermalam-malam. Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan
dirinya kalau yang dipikirkannya
hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul
bahwa ia tidak akan sanggup
bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah
yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika
Laila meregang nyawa dan sekarat, ia
masih memikirkan Majnun. Ah, kalau saja ia bisa
berjumpa dengannya sekali lagi
untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka
matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar
bahwa waktunya sudah habis dan ia
akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam
perpisahan kepada Majnun. Pada suatu
malam di musim dingin, dengan matanya tetap
menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun … Majnun. .Majnun. Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala
penjuru negeri dan, tak lama
kemudian, berita kematian Lailapun terdengar
oleh Majnun. Mendengar kabar itu,
ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun
sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan
siuman, ia segera pergi menuju
desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia
menyeret tubuhnya di atas
tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga
tiba di kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama
beberapa hari. Ketika tidak ditemukan cara lain untuk
meringankan beban penderitaannya,
per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di
kuburan Laila kekasihnya dan meninggal
dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada
di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan
kematiannya ketika segenap sahabat dan
kerabat menziarahi kuburannya, mereka
menemukan sesosok jasad terbujur di atas
kuburan Laila. Beberapa teman sekolahnya
mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar seolah
baru mati kemarin. Ia pun dikubur di
samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini
bersatu dalam keabadian, kini
bersatu kembali. Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi
bermimpi melihat Majnun hadir
di hadapan Tuhan. Allah swt membelai Majnun
dengan penuh kasih sayang dan
mendudukkannya disisi-Nya.Lalu, Tuhan pun
berkata kepada Majnun, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil- Ku dengan
nama Laila, sesudah engkau meminum
anggur Cinta-Ku?” Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah.
Jika Majnun diperlakukan dengan
sangat baik dan penuh kasih oleh Allah Subhana
wa ta’alaa, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada
Laila yang malang ? Begitu pikiran
ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun
mengilhamkan jawaban kepadanya,
“Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia
Cinta dalam dirinya sendiri. ” Wa min Allah at Tawfiq Diambil dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of
Sufis ) Tentang Penulis Laila Majnun, Syaikh Sufi
Mawlana Hakim Nizhami qs : Syaikh Hakim Nizhami qs merupakan penulis sufi
terkemuka diabad pertengahan
karena dua roman cinta yang menyayat hati, yaitu
Laila & Majnun serta Khusrau &
Syirin. Kisah sedih Laila & Majnun , dimana
Majnun yang berarti “Tergila-gila akan Cinta”, karena cintanya yang tak sampai pada Laila, akhirnya membuatnya
gila. Kisah cinta ini dibaca selama berabad-abad,
ratusan tahun jauh sebelum
Romeo & Julietnya Wiliam Shakespeare sehingga
Kisah Laila & Majnun terkenal
sebagai kisah cintanya Persia . Syaikh Nizhami qs adalah seorang Syaikh Sufi,
dan yang dimaksud “kekasih ” dalam berbagai kisahnya sesungguhnya adalah
perwujudan Allah swt. Syaikh
Nizhami hidup dari tahun 1155 M – 1223 M, beliau lahir dikota Ganje di
Azerbaijan. Ia telah menempuh jalan sufi
semenjak masa mudanya, dan ia diajar
oleh Nabi Khidir as, Sang Pembimbing Misterius
dan ia dilindungi 99 Nama Allah
Yang Maha Indah ( Asmaul Husna). Syaikh Nizhami qs sangat menguasai berbagai
macam ilmu, seperti matematika,
filsafat, Hukum Islam, dan kedokteran. Banyak
karyanya merupakan pelajaran
tersembunyi bagi pemeluk tariqah sufi dan
penempuh jalan spiritual. Karya Syaikh Nizhami qs terkenal karena bahasanya yang halus.
Karya Laila dan Majnun
sebenarnya berbentuk sajak berirama sebanyak
4500 syair sajak, yang dikenal
dengan sebutan Matsnawi. Sebagaimana lazimnya
terjadi pada para Syaikh Sufi, yang tertinggal dari Syaikh Nizhami qs adalah
ajaran-ajaran sufi yang sangat
tinggi.